Rakyat Harus Pilih yang Mana? Mati Sahid atau Mati Kelaparan karena Bantuan Tak Kunjung Datang

nanangsuryana, 29 May 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

OPINI- Karena Pandemi  Covid-19 Disadari atau tidak, saat ini ada 2 Mazhab yang saling bertentangan . Yaitu Mazhab Kesehatan vs Mazhab Ekonomi. Itulah yang ditulis seorang Netizen pada akun  FB-nya.

" Yang Mazhab Kesehatan, tentunya berfikir PSBB itu harus diperpanjang atau diperketat. Sedangkan untuk Mazhab Ekonomi, PSBB itu inginnya lebih baik dilonggarkan. Keduanya sama-sama punya data statistik. Yang satu membawa data statistik orang yang kena Corona, yang satunya lagi membawa data statistik orang yang kena PHK "

Lalu, kira-kira mana yang menang?  Rakyat Harus Pilih yang mana Mati Sahid Karena Wabah atau Mati Kelaparan karena terdampak  wabah  karena  bantuan Pemerintah yang tak pernah sampai atau salah kirim.... 

Berdasarkan survey yang dilakukan di media Twitter, dari sekitar 8.315 responden, yang menang ternyata "Mazhab Ekonomi". 

Loh, ko bisa? Kenapa? 

Ya, memang itulah kenyataannya. 
Memang itu yang sekarang terjadi di lapangan.
Dari hal ini kita bisa menarik suatu gambaran, bahwa ternyata :

"Orang masih bisa bertahan hidup meski harus dengan keadaan ketakutan karena penyakit. Tetapi orang tidak akan bisa bertahan hidup kalau harus dengan keadaan perut yang lapar".

Sampai disini paham? 

Tapi meskipun demikian, Pemerintah tetap memperhatikan keduanya. Baik itu yang memperjuangkan kesehatan ataupun yang memperjuangkan ekonomi. Karena semua tentu harus berjalan dengan seimbang. Pemerintah tidak hanya memikirkan 1 model persoalan. Akan tetapi sudah jauh memikirkan segala bentuk persoalannya. Pemerintah ingin warganya sehat, selamat, tapi tidak kelaparan. 

Maka dari itu, rencana pemberlakuan skema "New Normal" menurut saya adalah langkah yang sangat tepat untuk dipertimbangkan.
Dengan catatan, Pemerintah harus mengkaji dengan baik dan memperhitungkannya dengan matang terlebih dahulu. Jangan tergesa-gesa.  Sehingga nanti tidak menimbulkan masalah atau kebingungan baru ditengah masyarakat. 

Dengan "New Normal", nantinya masyarakat bisa kembali beraktivitas, bisa kembali bekerja cari uang, yang sekolah bisa kembali belajar, dan kita bisa beribadah seperti biasanya. Akan tetapi dengan catatan harus tetap memperhatikan protokol/standar kesehatan.
Ikuti aturan Pemerintah yang telah ditentukan. 

"New Normal" adalah suatu upaya untuk menyelamatkan hidup warga negara sekaligus menjaga agar negara bisa tetap berdaya menjalankan fungsinya sesuai konstitusi. 

Jika skema "New Normal" tidak diberlakukan, maka dikhawatirkn dampak sosial ekonominya tidak akan bisa tertahankan lagi. Kebangkrutan korporasi, ekonomi, PHK massal, kekacauan sosial dimana-mana, yang selanjutnya akan membawa efek domino kebangkrutan negara. 

Harap diingat, bahwa pemasukan negara berasal dari pajak dan penerimaan negara lainnya. Jika aktivitas ekonomi terus menerus berhenti total, tidak ada perputaran finansial sama sekali, alhasil negara tidak akan punya pemasukan. Akibatnya nanti negara tidak akan bisa mengurus rakyatnya dengan baik. 

Ah, saya mah gak setuju dengan "New Normal"

Ya tidak apa-apa. Silahkan saja anda tetap berada di dalam rumah. Jangan kemana-mana. Sebab di luar sana masih banyak orang yang harus ke luar rumah demi menghidupi keluarganya. 
Tidak usah saling menghujat dan saling menghakimi satu sama lain. Seorang Ulama dalam ceramahnya mengatakan " Setiap orang yang mati karena berusaha untuk menghidupi keluarganya dengan ikhtiar yang halal dan mati pada saat Wabah penyakit melanda adalah SAHID . ( Walohu alam bisawab )

Karena pada hekakatnya perjuangan setiap orang dalam menghadapi Pandemi ini tidaklah sama. Mungkin ada yang kelebihan materi untuk bisa #DirumahAja# tapi mungkin ada juga yang harus terseok-seok dengan segala kesulitan hanya untuk bertahan hidup. 

Ingat, kita memang berada di badai yang sama. Tetapi dalam kapal yang berbeda. Semoga Pandemi  Covid-19 Cepat Hilang dari Bumi Pertiwi Indonesia Tercinta.

29 Mei 2020

Nanang Suryana S

 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu