LP3KN akan menyelenggarakan PESTA PADUAN SUARA KATOLIK NASIONAL PERTAMA di Ambon pada tanggal 27 Oktober - 2 November 2018

INDONESIASATU.CO.ID:

Jakarta - Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik Nasional (LP3KN) bukan hanya untuk mengurusi paduan suara tetapi mengembangkan seni budaya gereja dimana seni budaya gereja ini bisa diartikan macam-macam bisa mengembangkan Gregorian dan  mengembangkan bernyanyi mazmur.

LP3KN adalah lembaga yang direstui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan difasilitasi oleh Pemerintah. Dalam struktur LP3KN, terdapat kehadiran beberapa pastor yg menjadi pejabat KWI, pejabat dari jajaran Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama dan sejumlah awam yg diangkat oleh KWI. Sebagai ketua LP3KN adalah Prof. DR.Adrianus Meliala.

Dalam waktu dekat ini LP3KN akan menyelenggarakan PESTA PADUAN SUARA KATOLIK NASIONAL PERTAMA pada tanggal 27 Oktober - 2 November 2018 di Ambon, Maluku. Pesparani ini akan diikuti oleh sekitar 8000 peserta dari 34 Provinsi.

Maka untuk membahas hal tersebut di atas LP3KN menggelar Konferensi Pers pada hari selasa(16/10)siang di Gedung Karya Pastoral Jl. Katedral 5 ,Jakarta Pusat. Dalam konferensi pers ini menghadirkan ; Prof. DR. Adrianus Eliasta Meliala (Ketua Umum), Toni HF Pardosi(Sekretaris Umum), Siti Garsiah(Bendahara Umum), Ernest Mariyanto (Ketua Bidang lomba dan penjurian ) dan Hasiholan Siagian (Sekretariat).

Prof. DR. Adrianus Eliasta Meliala selaku Ketua Umum mengatakan ; Empat belas kilometer jalan membentang dari Bandara Pattimura ke Kota Ambon, Maluku. Sepanjang jalan itu pula spanduk, umbul-umbul, dan baliho tentang Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik I terpasang pekan lalu. Menjelang penyelenggaran PESPARANI yang akan diadakan pada 27 Oktober – 2 November 2018 akan lebih semarak lagi. Sebab perkantoran dan pertokoan juga akan memasang berbagai atribut untuk menyongsong kedatangan kontingen dari 34 provinsi, ujar Adrianus pada saat Konferensi pers di Gedung Karya Pastoral.

Dalam PESPARANI nanti akan hadir peserta beserta pelatih yang akan datang akan mencapai sekitar 8.000 orang. Mereka sebagian besar adalah tokoh-tokoh umat yang berkarya di daerah masing-masing. Selain undangan para pejabat, 37 uskup yang datang dari seluruh Indonesia. Para uskup ini adalah pemimpin umat Katolik di wilayahnya masing-masing, ungkap Adrianus

PESPARANI ini merupakan kerja bersama antara pemerintah, pemda Ambon dengan para masyarakat untuk menyukseskan acara ini tersebut.

Disini kami memakai ada tujuh gedung yang berbeda seperti dari tempat agama muslim, agama kristen dan katolik. Untuk perlu diketahui untuk acara yang mengisi panggung itu adalah kita dari orang-orang katolik tetapi untuk kepanitian kita dari rata-rata orang kristen dan muslim sedang untuk katolik cuma 10%. Hal ini  tersebut dari tempat acara sampai kepanitian ini akan menjadi menjadi keragamaan, tutur Adrianus.

Karena PESPARANI ini baru pertama kali untuk itu kami yang katolik dan sesuai dengan rencananya Presiden Joko Widodo akan membuka event besar ini pada tanggal 27 Oktober di Lapangan Merdeka Ambon, kata Adrianus.

Disisi lain Ernest Mariyanto selaku  ketua Bidang lomba dan penjurian mengatakan pada visi pertama yang dalam Munas yang pertama menampung segi kekatolikan tetapi sekaligus juga segi ke Indonesian yang dituangkan dalam pemilihan lagu maka yang dipilih misalnya untuk dimensi katolik itu adalah lagu-lagu tradisional katolik atau lagu-lagu yang secara universal di pakai oleh gereja-gereja katolik yang akan dituangkan ke dalam lagu-lagu wajib, ujar Ernest.

Pada dimensi Indonesia di wakilin oleh karya-karya komponis-komponis Indonesia dari mulai lagu wajib sampai lagu pilihan jadi dua dimensi antara Katolik dan Indonesia yang mempunyai misi semboyan kita adalah 100% Indonesia dan 100% Katolik juga tertuang dalam kegiatan PESPARANI ini, ungkap Ernest

Tetapi ada belum terlaksana adalah cita-cita  lagu gereja nuansa etnik walaupun sebenarnya hal ini udah menjadi wacana dan pemikiran tetapi hanya waktu persiapan kita kali ini sempit dan tidak mungkin mempersiapkan lagu liturgi bernuasa etnik bagi semuanya jadi lagu nuansa etnik akan ditunda untuk di PESPARANI 2, kata Ernest.

Satu hal yang ditekankan  disini adalah nuansa liturgi jadi bukan hanya menampilkan nyanyian tetapi adalah nyanyian yang bisa di umatkan dan di pakai dalam perayaan liturgi . Secara istimewah disini adalah lagu-lagu Gregorian. Gregorian itu dalam gereja mengunjung sebagai satu lagu yang diunggulkan dalam gereja katolik tetapi kenyataan secara ini hampir tidak terdengar kecuali di Maluku, tutur Ernest

Untuk persoalan penjurian karena kita tingkat Nasional maka kita memilih memang juri-juri yang memang ahli bidang ini dan juri-juri ini dengan puji Tuhan kita masih bisa ketemukan di bumi nusantara dan bahkan keluar nusantara.

Untuk secara teknis peserta yang sudah terdaftar saat ini paling banyak yang mengikuti paduan suara campuran karena dianggap paling bergengsi dan kita mempunyai ada 12 kategori lomba dan yang khas katolik itu adalah Gregorian, kata Ernest.

Terkait dengan penghargaan dari panitia menentukan ada satu piala bergilir(Piala Presiden), ada piala tetap bagi juara umum yang memperoleh point tertinggi dan ada piala kategori yang di bedakan menjadi tiga yaitu gold, silver, brown karena kita mengikutin dari skala musik yang dipakai secara internasional, tutur Ernest. (RK)

 

  • Whatsapp

Index Berita