Kepala Puskesmas Cubadak Diduga Langgar Disiplin Dokter

INDONESIASATU.CO.ID:

PASAMAN --- Puan (66) tahun, meninggal di rumahnya setelah tiga hari dirawat dr.Edi Kusuma Tarigan dengan biaya Rp. 500.000 per malam. Total yang dibayarkan oleh Eli, istri Puan, kepada dr. Tarigan adalah Rp. 1.500.000,- Informasinya, kejadian ini terjadi pada awal Mei 2018.

Menurut Eli, kronolgis kejadiannya, dikarenakan Puan kena stroke pada pada awal Mei 2018, Puan mereka bawa berobat ke Puskesmas Cubadak di Simpang Kalam. Setelah tiga hari di rawat di Puskesmas Cubadak, dr. Tarigan, ---- dokter yang sudah lebih dua belas tahun tidak punya STR dan belum resmi sebagai anggota IDI, tetapi diangkat oleh Pemkab Pasaman menjadi Kepala Puskesmas Cubadak, --- mengatakan bahwa Puan harus di rujuk ke RSUD Lubuk Sikaping. Tetapi Puan tidak mau, dan keluarga membawanya pulang ke rumahnya sendiri di Silang Empat, Dua Koto. 

Sesampai di rumah, pihak keluarga mengharap agar dr. Tarigan bersedia merawat Puan di rumah. Dokter Tarigan bersedia dengan biaya Rp. 500.000 permalam. Pihak keluarga Puan menyanggupi biaya perawatan yang ditawarkan dr. Tarigan. Selanjutnya dr. Tarigan memasang infus. Setelah selesai memasang infus dan memberi obat yang dijualnya sendiri, lalu ditinggalkan begitu saja. 

Kalau infus habis, Una, anak Puan, menelepon dr. Tarigan, dan dr. Tarigan menyuruh perawatnya memasang penggantian infus. 

Pada hari ke tiga, Eli melaporkan kepada dr. Tarigan bahwa Puan tidak mau memakan obat. Tetapi, menurut Eli, bukan jalan keluar yang didapat, tetapi ucapan kasar.

"Kalau soal tidak mau memakan obat, bukan urusan saya", begitu menurut Eli, jawaban yang didapatnya dari dr. Tarigan. 

Oleh karena tidak ada jalan keluar soal Puan yang tidak mau makan obat tersebut, pihak keluarga menghentikan pengobatan Puan dari dr. Tarigan. Dokter Tarigan menghentikan perawatannya, lulu perawat datang ke rumah Puan tempat Puan dirawat untuk membuka infus yang sudah tiga hari terpasang. 

Demikian keterangan Eli dan Una kepada Indonesiasatu.co.id. 

Setelah dikonfirmasikan melalui WA kepada dr. Tarigan tentang kebenaran perbuatannya dalam melakukan peraktek perawatan pasien di rumah pasien ini, dia tidak membantah. Dia menjawab, "Lanjut".

Ketika hal ini dipertanyakan kepada salah seorang pengurus IDI Sumbar, perbuatan dokter merawat pasien di rumah pasien dengan menggunakan peralatan seperti infus, termasuk melanggar disiplin dokter yang telah ditetapkan Konsil Kedokteran Indonesian, termasuk dokter yang peraktek tanpa STR.

Setiap orang yang mengetahui terjadinya dugaan pelanggaran disiplin dokter, menurutnya, dapat melaporkannya kepada Majelis Kehormatan Disiplin Dokter Indonesia (MKDDI).

Sekaitan dengan kejadian terhadap Puan, Al Putra Ketua LSM Gerhana akan menelusuri kasus ini untuk dilaporkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Dokter Indonesia (MKDDI). (Anto)

Index Berita